Archive

Archive for Mei, 2010

APLIKASI “GREEN BUILDING” YANG TERJANGKAU DAN TEPAT GUNA UNTUK INDONESIA

Mei 28, 2010 2 komentar

Ditulis oleh:

1 Tanuwidjaja, Gunawan

1 MSc. Environmental Management (NUS), S.T. (ITB)

Urban Planner & Researcher

Green Impact Indonesia

Integrated Urban, Drainage and Environmental Planning and Design

Email: gunteitb@yahoo.com

https://greenimpactindo.wordpress.com/about/

Untuk Media Massa Utama di Indonesia

Pengantar

Menindaklanjuti artikel kami terdahulu berkaitan dengan Kongres Dunia ke-61 Federasi Real Estate International (FIABCI) dengan tema “Save the World: Green Shoots for Sustainable Real Estate” di Bali tanggal 25-28 Mei 2010, kami ingin memaparkan beberapa teknologi tepat guna yang sangat terjangkau dari “Green Building” yang selama ini seringkali luput dari perhatian para Pengembang, Arsitek maupun Profesional lainnya.

Kami memandang bahwa hal ini akan dapat mendorong terjadinya aplikasi “Green Building” sesuai dengan semangat “Sustainable and Affordable Homes” yang akan dapat tercapai dengan konsep “Low Cost, Low Technology, Low Negative Impact Development” atau “Biaya Murah, Teknologi Sederhana dan Berdampak Positif terhadap Lingkungan.”

Kami mencatat bahwa sebenarnya telah banyak teknologi tepat guna telah diteliti oleh institusi riset dan pendidikan seperti Puslitbang Permukiman, LIPI, ITB, UGM, Univ. Katolik Soegijopranata, dan Environmental Bamboo Foundation. Sayangnya teknologi ini tidak diadopsi karena keengganan pengusaha properti dan supplier untuk menggunakan konsep – konsep ini. i

Di sisi lain, tekanan perubahan iklim global dan kesadaran akan produk ramah lingkungan telah mendorong “Green Building” untuk diaplikasikan di Indonesia. Untuk menjawab ini maka kami akan memaparkan 2 teknologi yang memiliki semangat “Low Cost, Low Tech, Low Negative Impact Development” yang memiliki tujuan untuk membuat “Sustainable and Affordable Homes.”

Keyword: green building, rumah bambu plester, bambu semen, panel bambu plester prefab, low impact development, tangki air, bioretensi, rain garden atau swale, lahan parkir air, pervious pavement, biopori, sumur resapan.

Aplikasi Bambu Plester

Konsep Rumah Bambu Plester telah menjadi suatu solusi bagi perumahan yang ramah lingkungan tetapi tetap terjangkau. Penelitian terdahulu mengenai bambu plester Bpk. Dr-Ing (Cand). Andry Widyowijatnoko, ST., MT., Bpk. Dr. Ir. Budi Faisal, MLA, MAUD., dan Bpk. Mustakim ST. telah menunjukkan potensi penerapan ini untuk perumahan bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Beberapa rumah dan fasilitas sosial yang telah dibangun di antaranya adalah: Rumah Contoh di Pasir Impun, Bandung, Rumah Korban Gempa, Sukabumi; Prototipe Dinding Bambu Plaster di Environmental Bamboo Foundation, Bali; Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat(PKBM) Jatinangor, Sumedang; dan Community Center di Nagalawan, Sumatera Utara. ii

Gambar 1. Pemasangan Rumah Bambu Plester In-Situ

Bambu plester ternyata memenuhi persyaratan Material Bangunan yang Berkelanjutan atau “Sustainable Building Material.” Ciri – ciri dari material yang berkelanjutan ini ialah: iii

Tabel 1. Sifat ”Sustainable Building Material” dan Komparasi pada Bambu Plester
Sifat “Sustainable Building Material” Sifat pada Bambu Plester
  • Sumber daya material dapat diperbaharui
Ya
  • Atau material dapat didaur ulang
  • Atau material dapat dipakai ulang
  • Energi yang dipakai untuk memproduksinya cukup efisien atau kecil
Ya
  • Dampak lingkungan saat diproduksi cukup atau kecil
Ya
  • Banyak air yang dipakai dalam produksi juga efisien atau kecil
Ya
  • Material dapat diuraikan oleh alam atau biodegradable
Ya
  • Material tersebut sebaiknya diproduksi secara lokal sehingga tidak memerlukan energi atau biaya yang besar untuk mengirim ke lokasi pembangunan
Ya
  • Dampak yang dihasilkan dalam setelah bangunan dipakai
Ya
  • Tingkat kadar racun bagi manusia dan ekosistem yang dikandung cukup rendah atau tidak ada
Ya
  • Metode pemasangan dan konstruksi ramah lingkungan
Ya
  • Metodenya juga mudah dikerjakan oleh tukang dan penduduk setempat yang memerlukan pekerjaan
Ya
  • Tingkat ketahanan material cukup baik
Belum pada saat ini, tetapi dapat ditingkatkan dengan R&D lebih lanjut
  • Biaya dan kebutuhan perawatan bangunan sangat rendah
Ya
  • Kenyamanan termal ketika bangunan dipakai cukup baik sehingga mengurangi dampak konsumsi energi
Belum Diteliti

Bahkan, Dr. Andry Widyowijatnoko dkk pernah meneliti aplikasi bambu plester prefabrikasi yang berkelanjutan, dengan dasar pemikiran potensi – potensi sbb: iv

  • Keuntungan ekonomi dari material bambu yang lebih murah dari komponen baja sebagai tulangan beton.
  • Keberlanjutan bahan bambu yang dapat ditingkatkan dengan teknologi budidaya yang terintegrasi dengan konservasi, pengawetan, produksi, pemasangan dan perawatan.
  • Ketersediaan berbagai varietas bambu di Indonesia yang cukup berlimpah (tergantung pada lokasi).
  • Pengenalan bahan dan keterampilan dari tukang – tukang yang dapat dikembangkan untuk mengolah bahan bambu.
  • Potensi pengembangan ekonomi lokal terutama di perkotaan.
  • Potensi penerapan bambu plester prefabrikasi untuk perumahan terjangkau bagi warga yang berpenghasilan rendah.
  • Ancaman gempa di berbagai kawasan di Indonesia, menyebabkan teknologi ini akan memperkuat kekuatan struktur dan mengurangi ancaman karena kerusakan karena gempa.

Sebaliknya, dengan proses konstruksi Bambu Plester Prefab akan tercapai juga dampak ekonomi langsung dengan menurunnya harga rumah bagi masyarakat menengah ke bawah. Sebagai perbandingan Rumah Bambu Plester yang pernah dibuat oleh Dr. Andry Widyowijatnoko dan tim hanya berkisar antara Rp. 600,000,- per m2. Sedangkan rata – rata Harga bangunan Rumah Sederhana saat ini sudah mencapai Rp. 1.5 Juta Rupiah. Sedangkan sebagai perbandingan Rumah Bambu Plester yang dihasilkan oleh Puslitbang Permukiman harganya juga mencapai Rp. 780.000,-.v

Hal ini menunjukkan bahwa potensi Rumah Bambu Plester dan Bambu Plester Prefab ini akan mendatangkan keuntungan langsung dari harganya yang lebih murah. Bahkan kami telah menerapkan konsep ini pada Aplikasi Rumah Susun Berkelanjutan yang dipresentasikan pada Seminar Apartemen Bersubsidi pada tahun 2009. Dan kami memandang bahwa bambu plester prefab ini dapat diterapkan setidaknya untuk dinding non-struktural pada Apartemen Bersubisidi, dan memberikan keuntungan finansial yang cukup signifikan. vi

Dengan proses penanaman, perlakuan terhadap bambu, serta konstruksi yang baik dan berkelanjutan, maka teknologi ini akan mengalahkan berbagai material bangunan yang ada saat ini. Dengan pernyempurnaan bambu plester prefabrikasi ini maka akan didapatkan material yang lebih berkelanjutan seperti yang disampaikan di atas.

Aplikasi Low Impact Development

Aplikasi kedua yang kami kaji ialah “Low Impact Development” yang mengumpulkan air hujan, mendaur ulang air serta mengolah air limbah yang untuk “Green Homes.” vii

LID (Low Impact Development) merupakan sebuah konsep untuk mengurangi limpasan run-off atau limpasan permukaan serta dampak banjir. Hal ini diterapkan dengan menyimpan sebanyak mungkin air hujan serta menggunakannya untuk keperluan sehari – hari secara tepat guna. LID juga menyarankan berbagai konsep untuk menjaga keseimbangan siklus air di alam dengan menambah fungsi resapan, fungsi retensi atau penyimpanan air dan fungsi pemurnian air limbah. Konsep LID ini dapat dijelaskan dengan gambar sbb: viii

Gambar 2. Konsep Low Impact Development (LID) untuk Penyimpanan Air, Penggunaan Air dan Pengelolaan Limbah Cair
Gambar 3. Konsep Low Impact Development (LID) untuk Konservasi Air Secara Berkelanjutan

Keuntungan yang diberikan oleh LID ialah:

  • dapat menambah cadangan air hujan untuk penggunaan sehari-hari yang tidak memerlukan standar kualitas air yang tinggi;
  • Mengurangi limpasan air permukaan yang akan menimbulkan banjir, terutama pada kawasan perkotaan yang rawan banjir;
  • Mengurangi penggunaan air bersih secara keseluruhan;
  • Mendaur ulang air kotor untuk keperluan irigasi tanaman, menyiram toilet, dll;
  • Mengurangi dampak terhadap lingkungan berkaitan dengan polusi terhadap air dan tanah pada lokasi perumahan yang ada.

Semua ini akan sebalinya memberikan dampak positif bagi rumah atau perumahan yang menerapkan konsep LID diatas. Sebaliknya infrastruktur yang harus disiapkan dapat berupa infrastruktur sederhana seperti tangki air, bioretensi, rain garden atau swale, lahan parkir yang bisa dikonversi menjadi tampungan air sementara, perkerasan yang bisa menerima infiltrasi (pervious pavement), sumur resapan dan biopori dll.

Konsep ini dapat dilihat secara visual sebagai berikut: ix

Gambar 4. Infrastruktur Low Impact Development
Tangki Air Bioretensi
“Rain Garden” “Swale”
Lahan Parkir Multi-fungsi Pervious Pavement”
Sumur Resapan Biopori

Dengan evaluasi lahan, perencanaan dan desain LID yang terintegrasi dengan sistem drainase maka banjir genangan lokal akan dapat dikurangi. Sedangkan keuntungan lainnya seperti sumber air akan diperoleh. Sehingga dapat disimpulkan LID dapat memberikan keuntungan langsung dari pengurangan dampak banjir dan pengurangan biaya air.

Kesimpulan

Dari Studi Aplikasi Rumah Bambu Plester dan LID terlihat ada teknologi tepat guna yang masih dapat dieksplorasi untuk menciptakan “Green Homes” atau “Green Building.” Selama ini teknologi yang dipilih oleh Developer hanyalah yang meningkatkan harga jual dan bukan meningkatkan kualitas lingkungan secara signifikan. Sehingga perlu dievaluasi, “Berapa Hijau Rumah Anda dan Berapa Hemat Uang Anda?” Semoga teknologi – teknologi tepat guna bisa diterapkan dan menjadi kemaslahatan bersama.

Deskripsi mengenai Penulis

Gunawan Tanuwidjaja lulus dari Program MSc Environmental Management dari National University of Singapore, dan Sarjana Teknik dari Institut Teknologi Bandung. Beliau telah menjadi profesional perencana kota, arsitek dan periset dalam bidang pengembangan kota yang berkelanjutan sejak 2001.

Saat ini, beliau memimpin Green Impact Indonesia, sebuat studio yang menawarkan konsep Integrated Urban, Drainage and Environmental – Planning & Design.

Beliau tertarik dalam pengembangan riset bidang Kota Berkelanjutan (Sustainable Urban Development), Eco-City, Perencanaan Tata Ruang Terintegrasi dengan berbasis Ekologi dan Arsitektur Berkelanjutan (Sustainable Architecture). Email beliau: gunteitb@yahoo.com, sedangkan riset beliau lainnya dapat diakses secara gratis di https://greenimpactindo.wordpress.com/.

i http://balitbang.pu.go.id/webbal_search_iptek.asp?page=2

http://puspiptek.info/?q=id/node/781

http://www.ar.itb.ac.id/andry/wp-content/uploads/2006/03/BamBU%20PLAster%20untuk%20Aceh.pdf,

http://lib.ugm.ac.id/digitasi/upload/1223_RD1002001.pdf

Frick, H., Suskiyatno, B., (1998). Dasar – Dasar Eko-Arsitektur, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

http://www.bamboocentral.org/

ii Mustakim, Tanuwidjaja, Gunawan, Widyowijatnoko, Andry, Faisal, Budi, Bambu sebagai Material yang Berkelanjutan dan Affordable untuk Perumahan, dipresentasikan pada Seminar Nasional Apartemen Bersubsidi, Jurusan Teknik Sipil, UK Maranatha, 2009

Dapat diakses pada: https://greenimpactindo.wordpress.com

http://www.ar.itb.ac.id/andry/wp-content/uploads/2006/03/BamBU%20PLAster%20untuk%20Aceh.pdf

iii Mendler, Sandra et als, 2000, The HOK Guidebook to Sustainable Design, John Wiley and Sons

iv http://www.bamboocentral.org/

http://www.bsn.go.id/files/@LItbang/PPIS%202008/PPIS%20Jakarta/14%20-%20STANDARISASI%20BAMBU%20SEBAGAI%20BAHAN%20BANGUNAN%20ALTERNATIF%20PENGGANTI%20KAYU.pdf

v Harga bervariasi sesuai dengan lokasi dan tersedianya material bambu di lokasi.

vi Tanuwidjaja, Gunawan, Mustakim, Maman Hidayat, Sudarman, Agus, Integrasi Kebijakan Perencanaan dan Desain Rumah Susun yang Berkelanjutan, dalam Konteks Pembangunan Kota yang Berkelanjutan, dipresentasikan pada Seminar Nasional Apartemen Bersubsidi, Jurusan Teknik Sipil, UK Maranatha, 2009

Mustakim, Tanuwidjaja, Gunawan, Widyowijatnoko, Andry, Faisal, Budi, Bambu sebagai Material yang Berkelanjutan dan Affordable untuk Perumahan, dipresentasikan pada Seminar Nasional Apartemen Bersubsidi, Jurusan Teknik Sipil, UK Maranatha, 2009

Dapat diakses pada: https://greenimpactindo.wordpress.com

vii Tanuwidjaja, Gunawan, Widjaya, Joyce M., Integrasi Tata Ruang dan Tata Air untuk Mengurangi Banjir di Surabaya, dipresentasikan pada “Seminar Nasional tentang Arsitektur [di] kota: Hidup dan Berkehidupan di Surabaya?” Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Dapat diakses pada: https://greenimpactindo.wordpress.com

viii http://www.lowimpactdevelopment.org/

http://www.epa.gov/owow/nps/lid/

http://www.lid-stormwater.net/

ix http://www.lowimpactdevelopment.org/

http://www.epa.gov/owow/nps/lid/

http://www.lid-stormwater.net/

http://www.slideshare.net/olawai/liddesignandanalysis-presentation/download

http://www.slideshare.net/kevinbayuk/lid-presentation/download

http://www.slideshare.net/vicmanlapaz/rwh-and-ecosystems-unep-presentation/download

Direktorat Tata Ruang, Departemen Pekerjaan Umum, Program Peningkatan Kualitas Tata Ruang Jabodetabekjur, 2009

Download PDF Link:

http://www.scribd.com/doc/32094135/20100528-Ss-Green-Building-Yang-Terjangkau-Dan-Tepat-Guna

APAKAH HEMAT UANGKU DENGAN HIJAU RUMAHKU?

Mei 14, 2010 2 komentar

Ditulis oleh:
1 Tanuwidjaja, Gunawan
1 MSc. Environmental Management (NUS), S.T. (ITB)
Urban Planner & Researcher

Green Impact Indonesia
Integrated Urban, Drainage and Environmental Planning and Design
Email: gunteitb@yahoo.com
https://greenimpactindo.wordpress.com/about/

Untuk Media Massa Utama di Indonesia

Pengantar

Menyikapi beberapa headline di media masa Indonesia mengenai “Green Property” dan Kongres Dunia ke-61 Federasi Real Estate International (FIABCI) di Bali tanggal 25-28 Mei 2010, kami ingin memaparkan paradigma keterjangkauan dari “Green Property” yang seringkali luput dari perhatian para Pengembang, Arsitek maupun Profesional lainnya.

Kongres Dunia ke-61 FIABCI di Bali menggunakan tema “Save the World: Green Shoots for Sustainable Real Estate” telah mengubah setidaknya persepsi para pengembang untuk mengembangkan property yang hijau. Tetapi sayangnya banyak pendekatan “Green Homes” diduga dilakukan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dari penjualan dan bukan menerapkan konsep “Rumah Berkelanjutan” atau “Sustainable Homes” sepenuhnya.

Mengapa hal ini perlu diangkat? Kami memandang untuk konteks Indonesia dan Negara – Negara berkembang yang memiliki penduduk yang mayoritas adalah golongan ekonomi menengah dan bawah, faktor aspek keterjangkauan dari properti perlu dipikirkan untuk mencapai keberlanjutan yang sesungguhnya. Berikutnya kami akan memaparkan sedikit teori, perbedaan antara teori dan aplikasinya di lapangan serta saran – saran yang mungkin harus dilakukan.

Teori

Konsep “Sustainable Homes” tidak lepas dari pendekatan “Sustainable Development” atau “Pembangunan Berkelanjutan” yang diungkapkan dalam Report of the World Commission on Environment and Development tahun 1987. Konsep “Sustainable Development” dapat didefinisikan secara sederhana “Pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya di masa mendatang.” i

Selanjutnya, dalam konsep Pembangunan Berkelanjutan tsb. terdapat sebuah pendekatan keberlanjutan itu terintegrasi dengan 3 aspek utama yang perlu diperhatikan yaitu Aspek Ekonomi, Aspek Sosial dan Aspek Lingkungan. Hal ini berarti bahwa pilihan strategi Pembangunan Berkelanjutan juga harus memikirkan aspek keterjangkauan ekonomi, penerimaan secara sosial dan keramahan terhadap lingkungan. Walaupun sulit, hal ini dapat dikembangkan kembali untuk aplikasi “Sustainable Homes.”

Mengenai “Sustainable Homes”, telah banyak institusi yang menghasilkan rekomendasi tentang konsep “Rumah Berkelanjutan” ini. US Green Building Council dan International Union of Architect adalah 2 lembaga yang mendengungkan hal ini sejak tahun 1990-an.

United States Green Building Council telah berdiri setidaknya selama 17 tahun, dan telah menghasilkan berbagai panduan “Green Buildings” atau “Bangunan Ramah Lingkungan” yang relevan untuk negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada dll. Salah satu panduan yang menarik untuk dikaji ialah “LEED for Homes”. ii Kerangka ini diusulkan oleh USGBC (United States Green Building Council) pada tahun 2008. LEED for Homes ini dikembangkan secara khusus untuk 25% konstruksi rumah baru di Amerika agar dapat menjadi “Sustainable Homes” atau “Rumah yang Berkelanjutan.”

LEED for Homes ini juga disiapkan untuk membantu pembangun (builder) rumah untuk membangun rumah yang ramah lingkungan dengan proses yang dilakukan builder dan tim proyek (project team) yang juga sistematis dan baik. Sehingga Rumah tsb harus memenuhi persyaratan sbb:

– Memiliki desain strategi yang meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya;

– Memilih bahan bangunan, peralatan dan siste, bangunan yang ramah lingkungan, tahan lama;

– Dibangun dengan proses konstruksi yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga peralatan-peralatan di atas dapat dipasang secara baik.

– Selain itu semua pertimbangan LEED harus diintegrasikan seawall mungkin dalam proses desain rumah tsb.

Beberapa aspek yang dibahas dalam “LEED for Homes ialah:

– Proses Inovasi dan Desain (Innovation and Design Process/ ID) akan membahas tentang metode desain, kandungan pengaruh kawasan (regional) dalam system penilaian dan contoh level performa;

– Lokasi dan Tautan (Location and Linkages/ LL) membicarakan penempatan dari rumah secara sosial dan lingkungan yang berdampaj pada komunitas yang lebih luas;

– Pengelolaan Tapak yang Berkelanjutan (Sustainable Sites/ SS) membahas penggunaan lahan dengan memperhatikan pencegahan dampak kepada tapak.

– Efisiensi Air (Water Efficiency/ WE) membahas praktek untuk menggunakan air secara efisien baik di dalam atau di luar rumah.

– Energi dan Atmosfir (Energy and Atmosphere) membahas efisiensi energi dari segi desain selubung bangunan serta sistem pemanasan dan pendinginan.

– Material dan Sumber Daya (Materials and Resources/ MR) membicarakan efisiensi penggunaan material, pemilihan material ramah lingkungan serta pengurangan limbah pada saat konstruksi.

– Kualitas Udara Dalam Ruangan (Indoor Environmental Quality/ EQ) membicarakan peningkatan kualitas udara dengan mengurangi polusi dan kesempatan paparan dengan polutan.

– Kesadaran dan Pendidikan (Awareness & Education/ AE) membahas pendidikan pemilik, penyewa dan manajer bangunan mengenai operasi dan pemeliharaan dari elemen bangunan ramah lingkungan dari rumah yang bersertifikat LEED.

Berikutnya, UIA (Union internationale des Architectes) adalah organisasi asosiasi arsitek non-profit yang mewakili lebih dari satu juta arsitek di 124 negara. Pada Konferensi Copenhagen pada 7 Desember 2009 mengenai pengurangan emisi gas karbon, UIA menyampaikan Deklarasi yang menggambarkan pengakuan terhadap betapa besarnya dampak bangunan dan industri konstruksi kepada perubahan iklim yang terjadi saat ini. Dan berbagai dampak ini dapat dikurangi dengan menentukan bentuk sistem lingkungan binaan (“built environment”). Karena itu UIA berkomitmen untuk mengurangi dampak ini melalui “Sustainable by Design Strategy” program atau “Strategi Desain Berkelanjutan” yang akan dikembangkan lebih lanjut pada Kongres UIA di Tokyo pada 2011. iii

Konsep Strategi Desain Berkelanjutan UIA ini dapat didefinisikan lebih detail dalam 9 butir sbb: iv

– Sustainable by Design (SbD) dimulai pada tahapan awal proyek dan melibatkan komitmen seluruh pihak: klien, desainer, insinyur, pemerintah, kontraktor, pemilik, pengguna, dan komunitas;

– SbD harus mengintegrasikan semua aspek dalam konstruksi dan penggunaannya di masa depan berdasarkan “Full Life Cycle Analysis and Management” (Analisa dan Manajemen sepenuhnya dari Daur Hidup Bangunan);

– SbD harus mengoptimalkan efisiensi melalui desain. Penggunaan energi terbarukan, teknologi modern dan ramah lingkungan harus diintegrasikan dalam praktek penyusunan konsep proyek tsb;

– SbD harus menyadari bahwa proyek – proyek arsitektur dan perencanaan merupakan sistem interaktif yang kompleks dan terkait pada lingkungan sekitarnya yang lebih luas, mencakup warisan sejarah, kebudayaan dan nilai – nilai sosial masyarakatnya;

– SbD harus mencari “healthy materials” (material bangunan yang sehat) untuk menciptakan bangunan yang sehat, tata guna lahan yang terhormat secara ekologis dan visual, dan kesan estetik yang menginspirasi, meyakinkan dan memuliakan;

– SbD harus bertujuan untuk mengurangi “carbon imprints”, mengurangi penggunaan material berbahaya, dan dampak kegiatan manusia, khususnya dalam lingkup lingkungan binaan, terhadap lingkungan;

– SbD terus mengusahakan untuk meningkatkan kualitas hidup, mempromosikan kesetaraan baik lokal maupun global, memajukan kesejahteraan ekonomi, serta menyediakan kesempatan – kesempatan untuk kegiatan bersama masyarakat dan pemberdayaan masyarakat;

– SbD mengenal juga keterkaitan lokal dan sistem planet bumi yang mempengaruhi segenap umat manusia. SbD juga mengakui bahwa populasi urban tergantung pada sistem desa-kota yang terintegrasi, saling terkait untuk keberlangsungan hidupnya (air bersih, udara, makanan, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, kebudayaan dan lain – lain);

– Terakhir, SbD juga mendukung pernyataan UNESCO mengenai keberagaman budaya sebagai sumber pertukaran, penemuan, kreativitas sangat diperlukan oleh umat manusia.

Kedua lembaga tersebut telah mencoba menerapkan “Sustainable Homes” untuk mengurangi dampak pemanasan global yang semakin parah. Tetapi, hal ini rupanya mengalami tantangan di dunia nyata.

Tantangan terhadap Penerapan “Sustainable Homes” di Indonesia

Kesulitan untuk menerapkan “Green Homes” di Indonesia ialah belum tumbuhnya kesadaran masyarakat secara luas mengenai konsep “Green Homes” ini. Selain itu pula terjadi salah kaprahnya pengembang dan masyarakat mengenai hal ini. Konsep “Green” seringkali dieksplorasi untuk mendongkrak penjualan dengan menambahkan aplikasi “solar panel” dan “green roof” yang terlalu mahal untuk saat ini.

Sebaliknya solusi bahan ramah lingkungan seperti bambu, aplikasi tampungan air hujan dan solusi tepat guna lainnya belum diterapkan. Bahkan integrasi infrastruktur seperti drainase seringkali diabaikan sehingga menyebabkan kawasan tersebut berpotensi tergenang kala hujan ekstrim. Sesungguhnya ini juga kurang berlanjut menurut konsep “Sustainable Homes” di atas.

Sebaliknya pendekatan ramah lingkungan seperti tidak membangun di kawasan rawa yang mengalami penurunan tanah yang ekstrim seperti Jakarta Utara rupanya tetap menjadi trend yang wajar. Baru – baru ini kami mengevaluasi sebuah pembangunan di Jakarta Utara, dan kami menemukan fenomena bahwa penerima penghargaan FIABCI itu dibangun di atas rawa yang mengalami penurunan tanah ekstrim sebesar 3-10 cm per tahun. Artinya jika kita membeli rumah di perumahan tersebut maka rumah kita mungkin bisa melesak ke dalam tanah sebesar 30 cm sampai 1 m pada 10 tahun mendatang. Dan menyebabkan rumah kita akan tergenang parah. Hal ini sebenarnya tidak sesuai dengan pendekatan keberlanjutan di atas. v

Secara sederhana aplikasi “Sustainable by Design” yang diusulkan UIA dapat dibandingkan dengan tabel sebagai berikut:

Teori Kenyataan

Sustainable by Design (SbD) dimulai pada tahapan awal proyek dan melibatkan komitmen seluruh pihak: klien, desainer, insinyur, pemerintah, kontraktor, pemilik, pengguna, dan komunitas.

Seringkali, diduga tidak ada pelibatan stakeholders untuk menghasilkan “Green Homes.” Bahkan seringkali terjadi konflik terkait pembebasan lahan oeleh pengembang.

SbD harus mengintegrasikan semua aspek dalam konstruksi dan penggunaannya di masa depan berdasarkan “Full Life Cycle Analysis and Management.

Full Life Cycle Analysis and Management” belum diterapkan karena tujuan mengurangi biaya dalam persiapan perumahan tersebut.

SbD harus mengoptimalkan efisiensi melalui desain. Penggunaan energi terbarukan, teknologi modern dan ramah lingkungan harus diintegrasikan.

Seringkali yang diusulkan ialah solusi “mahal” seperti “green roof” dan “solar panel.” Sebaliknya, teknologi tepat guna seringkali disisihkan.

SbD harus menyadari bahwa proyek – proyek arsitektur dan perencanaan merupakan sistem interaktif yang kompleks dan terkait pada lingkungan sekitarnya.

Seringkali “Green Homes” atau “Green Development” menjadi kompleks eksklusif yang tidak terintegrasi dengan lingkungan sekitarnya bahkan seringkali menyebabkan banjir untuk kawasan sekitarnya.

SbD harus mencari “healthy materials” (material bangunan yang sehat).

Material yang murah seringkali lebih diutamakan dengan mengabaikan sertifikasi ramah lingkungan

SbD harus bertujuan untuk mengurangi “carbon imprints”, mengurangi penggunaan material berbahaya, dan dampak kegiatan manusia.

“Carbon Imprints” tidak dikenal secara luas pada supplier bahan bangunan di Indonesia.

SbD terus mengusahakan untuk meningkatkan kualitas hidup, mempromosikan kesetaraan baik lokal maupun global, memajukan kesejahteraan ekonomi.

Kesejahteraan masyarakat lokal seringkali diabaikan. Tukang profesional dari negara lain mulai dipilih untuk solusi yang lebih murah.

SbD mengenal juga keterkaitan lokal dan sistem planet bumi yang mempengaruhi segenap umat manusia.

Sumber bahan bangunan seringkali berasal dari kawasan pedesaan di sekitar kota yang seringkali dirusak oleh eksplorasi bahan bangunan.

Terakhir, SbD juga mendukung pernyataan UNESCO mengenai keberagaman budaya sebagai sumber pertukaran, penemuan, kreativitas sangat diperlukan oleh umat manusia.

Keragaman budaya dan prilaku seringkali tidak diintegrasikan demi tujuan produksi masal.

Kembali kepada aspek keterjangkauan ekonomi, memang untuk menyediakan perumahan bagi kurang lebih 230 juta masyarakat Indonesia merupakan tantangan yang sulit. Keterbatasan lahan, tidak terintegrasinya perencanaan ruang serta lemahnya intervensi Pemerintah terhadap pembangunan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah merupakan hambatan utama.

Selain itu 60% populasi Indonesia yang diperkirakan merupakan masyarakat ekonomi menengah dan bawah menghadapi krisis ekonomi beberapa tahun ini. Hal ini menyebabkan rendahnya daya beli mereka untuk “Green and Affordable Homes” atau “Rumah yang Terjangkau dan Berkelanjutan”.

Saran – Saran

Pengabaian aspek ekonomi dalam perencanaan dan desain “Green Homes” dapat menyebabkan kegagalan penerapan konsep di atas. Hal ini karena 60% warga Indonesia tidak dapat menjangkau properti tersebut. Sebaliknya penerapan “Green Homes” yang setengah hati juga akan menambah parahnya permasalahan lingkungan yang ada di Indonesia.

Aplikasi perencanaan dan desain rumah yang terintegrasi dengan teknologi tepat guna mungkin merupakan satu solusi untuk mengatasi hal ini. Penggunaan rumah bambu plester telah menjadi suatu solusi bagi perumahan yang ramah lingkungan tetapi tetap terjangkau. Sebaliknya Rumah Susun yang ramah lingkungan juga dapat menjadi solusi untuk kawasan permukiman padat di perkotaan Indonesia. vi

Solusi lainnya seperti “Low Impact Development” yang mengumpulkan air hujan, mendaur ulang air serta mengolah air limbah yang sederhana juga dapat mengatasi masalah mahalnya “Green Homes.” vii

Sebaga catatan, berbagai teknologi tepat guna telah diteliti oleh institusi riset dan pendidikan seperti Puslitbang Permukiman, LIPI, ITB, UGM, Univ. Katolik Soegijopranata, dan Environmental Bamboo Foundation. viii Tetapi sayangnya teknologi ini tidak berkembang karena lemahnya studi kelayakan usaha dan keengganan pengusaha properti dan suppier untuk menggunakan konsep – konsep ini.

Terakhir, dapat disimpulkan bahwa “Green Homes” tidak boleh diterapkan dengan setengah hati. Sebaliknya ada harapan untuk menerapkan “Sustainable and Affordable Homes” jika semua pihak mau menggunakan konsep “Low Cost, Low Technology, Low Negative Impact Development” atau “Biaya Murah, Teknologi Sederhana dan Berdampak Positif terhadap Lingkungan.”

Deskripsi mengenai Penulis

Gunawan Tanuwidjaja lulus dari Program MSc Environmental Management dari National University of Singapore, dan Sarjana Teknik dari Institut Teknologi Bandung. Beliau telah menjadi profesional perencana kota, arsitek dan periset dalam bidang pengembangan kota yang berkelanjutan sejak 2001.

Saat ini, beliau memimpin Green Impact Indonesia, sebuat studio yang menawarkan konsep Integrated Urban, Drainage and Environmental – Planning & Design.

Beliau tertarik dalam pengembangan riset bidang Kota Berkelanjugan (Sustainable Urban Development), Eco-City, Perencanaan Tata Ruang Terintegrasi dengan berbasis Ekologi dan Arsitektur Berkelanjutan (Sustainable Architecture). Email beliau: gunteitb@yahoo.com, sedangkan riset beliau lainnya dapat diakses secara gratis di https://greenimpactindo.wordpress.com/.

i WCED, (1987). Our Common Future: Report of the World Commission on Environment and Development, Chapter 2, Towards Sustainable Development, sumber: http://www.un-documents.net

ii http://www.usgbc.org/

http://greenhomeguide.com/askapro/topic/12

iii http://www.uia-architectes.org/image/PDF/COP15/COP15_Declaration_EN.pdf

iv Ibid. http://www.uia-architectes.org/image/PDF/COP15/COP15_Declaration_EN.pd

v http://www.jakartagardencity.com/pdf/Jan2010_05.pdf

vi Tanuwidjaja, Gunawan, Mustakim, Maman Hidayat, Sudarman, Agus, Integrasi Kebijakan Perencanaan dan Desain Rumah Susun yang Berkelanjutan, dalam Konteks Pembangunan Kota yang Berkelanjutan, dipresentasikan pada Seminar Nasional Apartemen Bersubsidi, Jurusan Teknik Sipil, UK Maranatha, 2009

Tanuwidjaja, Gunawan, Mustakim, Widyowijatnoko, Andry, Faisal, Budi, Bambu sebagai Material yang Berkelanjutan dan Affordable untuk Perumahan, dipresentasikan pada Seminar Nasional Apartemen Bersubsidi, Jurusan Teknik Sipil, UK Maranatha, 2009

Dapat diakses pada: https://greenimpactindo.wordpress.com

vii Tanuwidjaja, Gunawan, Widjaya, Joyce M., Integrasi Tata Ruang dan Tata Air untuk Mengurangi Banjir di Surabaya, dipresentasikan pada “Seminar Nasional tentang Arsitektur [di] kota: Hidup dan Berkehidupan di Surabaya?” Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra,Surabaya.

Dapat diakses pada: https://greenimpactindo.wordpress.com

viii http://balitbang.pu.go.id/webbal_search_iptek.asp?page=2

http://puspiptek.info/?q=id/node/781

http://www.ar.itb.ac.id/andry/wp-content/uploads/2006/03/BamBU%20PLAster%20untuk%20Aceh.pdf,

http://lib.ugm.ac.id/digitasi/upload/1223_RD1002001.pdf

Frick, H., Suskiyatno, B., (1998). Dasar – Dasar Eko-Arsitektur, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

http://www.bamboocentral.org/

Link PDF: http://www.scribd.com/doc/31344016/20100514-Apakah-Hemat-Uangku-Dengan-Hijau-Rumahku

SUSTAINABLE ARCHITECTURE: HOW GREEN IS THE “GREEN DEVELOPMENT” IN INDONESIA

Written by:

1 Tanuwidjaja, Gunawan

1 MSc. Environmental Management (NUS), S.T. (ITB)

Urban Planner & Researcher

Green Impact Indonesia

Integrated Urban, Drainage and Environmental Planning and Design

Email: gunteitb@yahoo.com

https://greenimpactindo.wordpress.com/about/

For Jakarta Post Article

Green Development has become well known worldwide due to the Global Climate Change and increase of environmental awareness. Further, it has become the main concern of present construction industry because approximately 50% of the Green House Gases were contributed by the construction industry and its related activities. i The “Green Developments” were emerging in Jakarta. This was caused by the response of its residences who didn’t like to be trapped in traffic jams, heavy air pollutions, floods, thermal discomfort, etc which were common in Jakarta. Although, we agreed that some Greening Strategies, such as planting trees, implementing green roofs, energy and water saving, had been adopted by developer, some other strategies were failed to be implemented. Even some unsustainable strategies were found. This actually shows that the green development was more utilised by the developers to attract the “More Environmentally Friendly Customers,” rather than protecting the environment with the “The True Green Development.”

The Theory

The Green Development actually must be guided by set of standard following the Sustainable by Design Strategy. According to UIA (International Union of Architect), the Green Development must follow holistic and integrated planning and design process from the city to the building. And if conducted, this action would eventually reduce 50% to 80% of the greenhouse gas emissions and overall environmental impact.ii

Figure 1. “Integrated Green Development Approach” According to UIA

UIA also prescribed the Sustainable by Design (SbD) Strategies to be implemented in Green Development such as (direct quotation):

  • Sustainable by Design begins with the earliest stages of a project and requires commitments between all the stakeholders: clients, designers, engineers, authorities, contractors, owners, users and the community.
  • Sustainable by Design incorporates all aspects of construction AND future use based on full Life Cycle Analysis and Management.
  • Sustainable by Design optimises efficiency through design. Renewable energies, high performance and environmentally benign technologies are integrated to the greatest practical extent in the project conception.
  • Sustainable by Design recognises that all architecture and planning projects are part of a complex interactive system, linked to their wider natural surroundings, and reflect the heritage, culture, and social values of the daily life of the community.
  • Sustainable by Design seeks healthy materials for healthy buildings, ecologically and socially respectful land-use, and an aesthetic sensitivity that inspires, affirms and ennobles.
  • Sustainable by Design aims to significantly reduce carbon imprints, hazardous materials and technologies and all other adverse human effects of the built environment on the natural environment.
  • Sustainable by Design endeavours to improve the quality of life, promote equity both locally and globally, advance economic well-being and provide opportunities for community engagement and empowerment.
  • Sustainable by Design recognises the local and planetary interdependence of all people. It acknowledges that urban populations depend on an integrated, interdependent, and sustainable rural-urban system for their life support systems (clean water and air, food, shelter, work, education, health, cultural opportunity, and the like).
  • Sustainable by Design endorses UNESCO’s statement that cultural diversity, as a source of exchange, innovation and creativity, is as necessary for humankind as biodiversity is for nature. iii

Further, several Green Development Guidelines exist universally. Understanding that these guidelines still need adjustment to the Indonesian local condition, we would like to explain further 5 guidelines that could be used for implementing Sustainable by Design in the real world, such as: iv

  • “Leadership in Energy and Environmental Design (LEED),” from USA dan Worldwide (LEED for Homes was going to be used for measuring the study case)

  • “Green Mark,” from Singapore

  • “Green Neighbourhoods Planning and Design Guidelines,” from Center for Housing Innovation, University of Oregon, USA

  • “High Performance Building Guidelines,” from City of New York, Department of Design & Construction, USA

  • “The Land Code, Guidelines for Environmentally Sustainable Land Development,” from Yale School of Forestry & Environmental Studies, Yale University, USA

Further, these guidelines have almost similar requirements in their contents. This shows that the similar environmental concerns among the Building Practitioners and environmental friendly approaches adopted. Further, they could be described in the following table:

Aspect

LEED (for Homes)

Green Mark

Green Neighbourhood Planning and Design Guidelines

High Performance Building

Land Code

Design Process

Innovation and Design Process

Described in the Aspect Described in the Aspect

City Process and Design Process

Approaches to Green Development
Construction Process Construction Administration
Commisioning Commisioning
Operation and Maintenance Operation and Maintenance

Legal

Described in the City Process Legal Strategies for Municipalities and Developers

Location

Location and Linkages

Site

Sustainable Sites

Site and Project Management

Environmental Assets, Urban Forests, Air Pollution, Vegetation

Site Design and Planning

Air Pollution and Micro-meteorology, Plant Ecology and Population, Environmental Engineering, Industrial Ecology

Water

Water Efficiency

Water Efficiency

Natural Drainage, Impervious Surfaces,

Water Management

Water Quality and Hydrology

Building Material

Materials and Resources

Material and Product Selection

Thermal Comfort

Indoor Environmental Quality

Indoor Environ-mental Quality & Environmental Protection

Indoor Environment

People Awareness

Awareness & Education

Energy

Energy & Atmosphere

Energy Efficiency

Building Energy Use

On Site Energy and Transportation

Other Innovations

Innovations

For easier comparison, we would like to use Sustainable by Design and LEED for Homes as the benchmark for evaluating the Green Development in Indonesia.

The Real Practice versus the Theory

In the real practice, many Green Developments seem has not applied the Sustainable by Design approach. For example, the planning process normally was executed excluding stakeholders due to conflict of interest in land ownership or other issues. Although LEED only mentioned 3 stages to be conducted with multidisciplinary approach, but ideally the involvement of all stakeholders should be performed in every possible steps. v

Further, Sustainable by Design actually should incorporate all construction aspects and consider the full Life Cycle Analysis and Management. But in the real practice, we did not see that the sustainable materials were not evaluated. Sometimes less environmental friendly construction methods were selected for lower cost of construction. And this is also against the LEED standard.

Because energy crisis, introduction of energy efficiency design were introduced. But the renewable energies, high performance and environmentally technologies were usually selected without considering alternatives cost-effective methods. And this actually caused excessive price increase of Green Property. For example, expensive green roof and photo-voltaic panel were implemented, while simple retention tank was not adopted.

Lastly, the Sustainable by Design should recognise the complex interactive system, between built environment and the natural environment, and social environment. But in the practice normally, the important ecological marshes and water bodies were considered as the main land supply for profitable properties. And many of these areas were converted as the prime Green properties in Jakarta causing the surrounding urban low-lands flooded. This strategy was actually against the Sustainable by Design, LEED as well as Regulation of Spatial Planning and Water Management in Indonesia.

This is actually shows the less sustainable approach in the current “Green Development in Indonesia”. On the other hand, the extraordinary price tags were normally put in these Green Developments. We believe that this phenomenon was originally started by LEED application in USA. We actually understand that better infrastructure in LEED Home needs more expensive investment. Unfortunately, the improper land preparation and insufficient infrastructures existed in the Green Development in Indonesia.

Furthermore, sustainable materials like Certified Woods from Sustainable Forestry also were not widely used in Indonesia. So the practice of illegal logging and rainforest fires would not be stopped with the current “Green Development.” For the record in 1998, it was reported that forty percent of the forests, which was reported in 1950, had been cleared (from 162 million ha forest, only 98 million ha forest left). And 1,708,750 to 1,871,500 ha of forests were deforested annually.vi This is also the failure of “Green Development in Indonesia.”

The Pluit Village Case: Unsustainable Green Commercial by Lippo Karawaci

The Pluit Village was located within the Pluit Residential area in North of Jakarta. The Pluit area was developed in 1970 by Regional Government Company named Management Board of Pluit Area (Badan Pengelola Lingkungan Pluit). The company was later restructured and renamed as PT. Pembangunan Pluit Jaya. And in 1995, PT. Pembangunan Pluit Jaya, cooperating with private entities, PT. Duta Wisata Loka (DWL) (1995) converted green and blue open spaces within the area to commercial space, such as Megamall Pluit. Later on other spaces were converted to commercial like: Pluit Junction and Greenbay Pluit Apartment. vii

Jakarta Province Government allowed and legalised this. Later on PT Pembangunan Pluit Jaya was renamed again as PT. Jakarta Propertindo. While PT. Duta Wisata Loka was later restructured and bought by Lippo, a renowned “Green Developer” in South-East Asia. And the Mega Mall was renovated expanding into the Pluit Lake. The project was renamed as Pluit Village. viii

In the mean time, the Pluit Polder was not fully developed as integrated polder system by the developer. And due to that, the area was inundated heavily for 3 weeks in 2002. This disaster brought awareness of the communities on the importance of integrated flood protection system. And The Community Forum of Pluit Environment Care (or named as Forum Masyarakat Peduli Lingkungan Pluit/ FMPLP in Indonesian language) was formed later on. For easier description, we mentioned it as Pluit Forum.

The Pluit Forum was formed by the Residents of Pluit area which represented by Homeowner Group (Rukun Tetangga/ RT), Homeowner Association (Rukun Warga/ RW) and Pluit Administration Head (Lurah Kelurahan Pluit). The purpose of this organisation was to coordinate the simultaneous effort to protect the Pluit area with holistic approach. And with the proper general planning, construction, operation and maintenance of the polder, Pluit area was freed from flooding in 2007, when other areas in Jakarta Metro flooded.

Unfortunately due to Lippo’s Pluit Village development, the Polder Pluit operation faces crisis because of reduction of Pluit Lake retention capacity, diversion inflow from North Compartment to 3-m width long-storage, major landscape change in Pluit Village. These actually showed unsustainable approach of the developer.

Further, all these have caused the change of drainage pattern and local inundations in the residential area of Pluit. The Pluit Forum has tried solving this with the developer since 2008. But the effort seems to be useless because Lippo did not want to continue the discussion and was reported buying and constructing 14 additional expensive pumps without proper drainage design and detail engineering design, jeopardising the existing polder dikes.

The impact of the environmental destruction by Lippo was worsened by the climate change in 2008, 2009 and 2010. Tidal wave caused sea dikes failures and inundating the area in a short time. In 2008, the highest astronomical tide actually surpassed the dike level of Pluit Reservoir. These phenomena actually show the unsustainable approach of Lippo.ix

On the other hand, PT Lippo Karawaci Tbk (“Lippo Karawaci”) admitted that it was founded on a vision to impact lives through the development of well-planned sustainable independent townships with green environments and first class physical and social infrastructure. And it has expanded its business comprising urban development, large scale integrated development, retail malls, healthcare, hotel and leisure, etc. x It was very contradicting to the reality with Pluit Village.

So, it could be concluded that the developer were predicted using “Fake Green Development” more as profit taking strategy rather than environmental protection strategy. And it is very dangerous because in the international level, the developer could gain “Green Development Award” such as FIABCI with the unsustainable practices.

The Suggestion

This actually shows that “The Current Green Development in Indonesia” is not really Green yet. And real action would be needed in implementing the True Green Development. This could be started with the Integrated Planning with Ecological Approach that could be defined as: “Planning process which consider the ecological condition (biodiversity), environmental capacity, and social – economic context that influence the site. Further, in the planning process, integration of infrastructure planning such as water resource management, etc must be evaluated and implemented. Lastly, but not least the stakeholders’ participation must be facilitated in all decision making process.” And this concept could be described in the following figure. xi

Figure 2. The Integrated Spatial Planning with Ecological Approach. xii

We also see that land suitability evaluation need to incorporated in the process top mitigate the destruction of important ecological areas, reduction of infrastructure investments as well as reduction of social-economical negative impacts from the future land development. This approach was similar to Site Selection in LEED. On the other hand, developers normally abandon this step and cause the customer to suffer. For example, the North Jakarta was facing 1-15 cm land subsidence. In 10 years the ground actually would submerge 10 cm to 1.5 m. This eventually would increase the area vulnerability to flooding and diminish the property values. xiii This has highlighted the important of land suitability evaluation before the development.

Figure 3. ALiT’s (Adaptive Land Suitability Evaluation Tool) Methodology. xiv

Later on, LEED or other Green Building Standard must be really adopted and incorporated in the holistic planning-design approach of the projects. xv The aspects are as followed:

1. Innovation and Design Process (ID)

  • Integrated Project Planning;

  • Durability Management Process;

  • Innovative or Regional Design.

2. Location and Linkages (LL)

  • LEED for Neighbourhood Development/ LEED ND; or

  • Site Selection;

  • Preferred Locations;

  • Infrastructure;

  • Community Resources;

  • Access to Open Space.

3. Sustainable Sites (SS)

  • Site Stewardship;

  • Landscaping;

  • Local Heat Island Effects;

  • Surface Water Management;

  • Nontoxic Pest Control;

  • Compact Development.

4. Water Efficiency (WE)

  • Water Reuse;

  • Irrigation Systems;

  • Indoor Water Use.

5. Energy and Atmosphere (EA)

  • Optimize Energy Performance;

  • Insulation;

  • Air Infiltration;

  • Windows;

  • Heating and Cooling Distribution System;

  • Space Heating and Cooling Equipment;

  • Water Heating;

  • Lighting;

  • Appliances;

  • Renewable Energy;

  • Residential Refrigerant Management.

6. Materials and Resources (MR)

  • Material-Efficient Framing;

  • Environmentally Preferable Products;

  • Waste Management.

7. Indoor Environmental Quality (EQ)

  • ENERGY STAR with Indoor Air Package;

  • Combustion Venting;

  • Moisture Control;

  • Outdoor Air Ventilation;

  • Local Exhaust;

  • Distribution of Space Heating and Cooling;

  • Air Filtering;

  • Contaminant Control;

  • Radon Protection;

  • Garage Pollutant Protection.

8. Awareness & Education (AE)

  • Education of Homeowner or Tenant;

  • Education of Building Manager.

Although, we understand that some of the LEED aspect are irrelevant to Indonesia, we need to emphasize that the Green Development needs to follow minimum credit of settled by US Green Building Council, and Green Building Council Indonesia. And this should be publicized to the public to ensure that the Consumers are not deceived by the Developers.

Conclusion

It can be concluded that Green Development in Indonesia needs to be integrated with the Spatial Planning and Ecological Conservation effort. This is important due to the important tropical ecological areas in Indonesia that are also valuable to the world.

Further, the Green Developments also must be holistically planned and designed following the Green Building Standard but with adaptation to the Indonesia Socio-Economic Conditions. And the Green Development Status should not cause excessive increase the price of the Green Property. More Low Cost, Low and Local Technology as well as Low Negative Impact Development must be selected and utilized.

Lastly, all stakeholders such as: clients, designers, engineers, authorities, contractors, owners, users and the community must be involved as much as possible in the planning – design as well as operation and maintenance process. The awareness of the important environmental protection and management should be disseminated among the stakeholders to ensure the “the Successful True Green Development.”

The Writer’s Description

Gunawan Tanuwidjaja was graduated as MSc Environmental Management from National University of Singapore, and as Bachelor of Architecture (ST) from Bandung Institute of Technology (Institut Teknologi Bandung). He has practiced as professional urban planner, architect and researcher in Indonesia and Singapore since 2001. He is currently managing Green Impact Indonesia, an Integrated Urban, Drainage and Environmental – Planning & Design Studio. His research interests are in Sustainable Urban Development, Eco-City, Integrated Ecological Planning and Sustainable Architecture. His email is gunteitb@yahoo.com, while his researches are accessible in https://greenimpactindo.wordpress.com/.

i http://www.uia-architectes.org/image/PDF/COP15/COP15_Declaration_EN.pdf

ii Ibid.

iii Ibid.

iv http://www.usgbc.org/

http://greenhomeguide.com/askapro/topic/12

http://www.bca.gov.sg/GreenMark/green_mark_buildings.html

http://www.nyc.gov/html/ddc/html/design/sustainable_home.shtml

http://environment.yale.edu/topics/ecology_ecosystems_and_biodiversity/962

http://as.wiley.com/WileyCDA/WileyTitle/productCd-0470049847,descCd-authorInfo.html

http://www.sdnpbd.org/sdi/international_days/wed/2005/document/green%20neighborhoods%20-%20planning%20and%20design%20guidelines.pdf

v Indonesian Ministries of Public Works and the Netherlands Ministries of Transport, Public Works and Water Management, and of Spatial Planning, Housing and Environment, Partners for Water, Rijkswaterstaat, and UNESCO-IHE (2009), Guidelines on Urban Polder Development, retrieved from: http://www.pusair-pu.go.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=41

Community Forum of Pluit Environment Care (Forum Masyarakat Peduli Lingkungan Pluit/ FMPLP) Presentation and Documentation.

vi World Resources Institute, Forest Watch Indonesia, Global Forest Watch (2002) , State of the Forest Indonesia.

World Resources Institute, Forest Frontiers Initiative, WWF-Indonesia & Telapak Indonesia Foundation (2000), Trial by Fire, Forest Fires and Forestry Policy in Indonesia’s Era of Crisis and Reform. retrieved from: http://www.globalforestwatch.org/english/indonesia/index.htm;

FAO Global Forest Resources Assessment 2005, retrieved from: http://www.fao.org/forestry/fra/en/;

http://www.indonesianforest.com/;

http://www.profauna.or.id/ indo/Fakta_satwa.html;

vii Op.cit 5.

viii Op.cit 5.

ix http://nasional.kompas.com/read/2008/05/08/03493012/rob.datang.lagi.besok.di.kawasan.pluit

x http://www.lippokarawaci.co.id/aboutlippokarawaci/index.aspx

xi Tanuwidjaja, Gunawan, and Malone, Lee-Lai-Choo. (2009) Applying Integrated Ecological Planning and Adaptive Landscape Evaluation Tool for Developing Countries in the Framework of Sustainable Spatial Planning and Development, Study Case Bintan Island, Indonesia, Positioning Planning in the Global Crises International Seminar, Planning Department, School of Architecture Planning and Policy Development, Bandung Institute of Technology.

xii Ibid.

xiii http://www.fig.net/pub/vietnam/papers/ts06f/ts06f_abidin_etal_3491.pdf

xiv Op.cit 11.

xv http://greenhomeguide.com/askapro/topic/12

Download Link PDF:

http://www.scribd.com/doc/30962363/20100506-For-Jakarta-Post-Sustainable-Architecture-How-Green-is-the-Green-Development-in-Indonesia